Dari Hujan ke Harapan, Cerita Tentang Solidaritas dan Siaga Bencana

oleh -367 Dilihat
banner 468x60

Pulubala, 20 Oktober 2025 — Langit sore di Desa Molamahu mendung tebal, lalu hujan deras turun tanpa henti. Selain itu, suara air yang menimpa atap rumah dan pepohonan mengubah suasana desa menjadi riuh. Dengan demikian, warga segera menyadari potensi bahaya yang muncul.

Warga mulai khawatir melihat sungai di desa naik cepat. Selain itu, arus membawa ranting, daun, dan lumpur ke hilir. Dengan kata lain, beberapa pekarangan rumah mulai tergenang air setinggi mata kaki.

banner 336x280

Begitu laporan di terima, Babinsa bersama aparat desa langsung turun ke lokasi. Selain itu, mereka berjalan menyusuri jalan licin dengan jas hujan. Dengan demikian, pemantauan di lakukan untuk memastikan tidak ada warga terdampak serius.

Sertu Fredy Naue mengoordinasikan pengecekan di bantaran sungai. Selain itu, ia menegaskan debit air masih tinggi namun kondisi relatif aman. Dengan kata lain, kesiagaan terus terjaga agar situasi tidak memburuk.

Menjelang malam, hujan mulai menurun. Selain itu, genangan air berangsur surut, dan warga membersihkan sisa lumpur. Dengan demikian, gotong royong terasa hangat, sambil anak-anak ikut membantu di teras rumah.

Hingga malam, tidak ada korban jiwa atau kerugian besar. Selain itu, Babinsa dan aparat desa tetap mendata rumah terdampak. Dengan kata lain, kewaspadaan tetap di jaga karena curah hujan masih berpotensi tinggi beberapa hari ke depan.

Di tengah kondisi itu, solidaritas warga terbukti menjadi kekuatan utama. Selain itu, Babinsa dan aparat terus memantau hingga situasi aman. Dengan demikian, Desa Molamahu menunjukkan bahwa kebersamaan adalah benteng pertama menghadapi tantangan alam.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *