GORONTALO – Di tengah desa kecil bernama Tonala, semangat besar tumbuh dari hal sederhana. Warga dari berbagai kalangan berkumpul, bergotong royong melaksanakan pengecoran jalan rabat beton. Suasana penuh canda dan kerja keras menjelma menjadi potret nyata persatuan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata kekuatan swadaya masyarakat dalam memperbaiki infrastruktur desa. Pengecoran ini bukan semata karena kebutuhan akses, tetapi juga karena kesadaran bersama bahwa pembangunan adalah tanggung jawab kolektif seluruh warga.
Salah satu warga, Lunu Djapangi (55), mengungkapkan rasa bangganya terhadap semangat yang ditunjukkan masyarakat. “Kami menyebut mereka para pembangun sejati. Mereka menyumbang tenaga, waktu, dan semangat tanpa pamrih. Bukan dana besar yang membuat proyek ini berjalan, tapi persatuan warga,” ujarnya dengan senyum puas.
Sepanjang hari, suasana kerja yang penuh energi kebersamaan. Para lelaki mengaduk semen dan meratakan cor, sementara ibu-ibu dengan penuh perhatian menyiapkan minuman dan makanan bagi para pekerja. Setiap langkah dan tawa di bawah terik matahari menjadi simbol kuatnya budaya gotong royong yang masih hidup di Desa Tonala.
“Jalan ini milik kita semua,” tambah Lunu. “Anak-anak kini bisa berangkat sekolah lebih aman, dan hasil panen petani bisa terangkut tanpa hambatan.” Ucapan sederhana itu menggambarkan makna besar di balik kerja keras warga selama ini.
Pembangunan jalan rabat beton ini memberi dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi dan efisiensi waktu warga. Hasil panen dapat lebih cepat dipasarkan, dan mobilitas antar dusun menjadi lebih lancar.
Desa Tonala kini menatap masa depan dengan optimisme. Semangat “Pembangun Sejati” yang lahir dari aksi kolektif ini terus menjadi warisan sosial dalam setiap gerakan pembangunan desa. Gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan kekuatan yang membangun dan mempersatukan.












